gaulislam edisi 036/tahun I (26 Jumadits Tsaaniy 1429 H/30 Juni 2008)
Muslimah Hebat Dambaan Umat
Menjadi perempuan adalah anugrah. Menjadi
perempuan yang beriman dan berislam, itu jauh lebih indah lagi. Mau tahu kenapa?
Karena menjadi perempuan muslimah itu merupakan sebuah berkah yang tidak dialami
oleh semua perempuan di dunia. Dan berkah ini akan menjadi lebih sempurna ketika
sebagai muslimah, kita menyadari akan keistimewaan ini. Kenapa bisa begitu?
Karena ternyata di luar sana, banyak banget mereka yang mengaku dirinya muslimah
namun masih bingung dengan jati dirinya sendiri. Mereka akhirnya berusaha
mencari jawaban kebingungan itu dengan mengambil jalan lain yang nggak ada
benernya sama sekali.
Jalan lain ini seringnya sok menjadi pahlawan
kesiangan bagi perempuan sehingga seakan-akan perempuan sendiri merasa
diistimewakan. Salah satunya adalah ide feminisme yang (katanya) memperjuangkan
kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Tapi muslimah cerdas nggak bakal
dong terjebak dengan ide yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam ini. Sebab,
bukannya menjadi mulia, feminisme justru membawa perempuan kepada keterpurukan
yang makin parah dalam semua sendi kehidupan (tema ini akan dibahas khusus di
edisi berikutnya, insya Allah).
Trus, gimana dong supaya kamu, saya, dan kita
semua bisa menjadi perempuan mulia dan hebat dunia-akhirat? Pasti dong ada
langkah-langkah jitu untuk mencapainya. Ikuti terus yuk bahasannya.
Muslimah itu harus cerdas
Poin ini selalu saya tujukan bagi perempuan
siapa pun dia adanya dan di mana pun dia berada. Why? Karena perempuan cerdas
itu indah. Ia nggak mudah dibohongi oleh apa pun atau siapa pun, baik oknum itu
berupa sosok bernama laki-laki ataupun sosok bernama ideologi. Laki-laki di sini
yang dimaksud adalah laki-laki yang nggak beriman dong. Karena kalo yang
beriman, otomatis ia pasti memuliakan perempuan. Sedangkan sosok bernama
ideologi utamanya kapitalisme dan sosialisme, akan mudah mempecundangi perempuan
nggak cerdas dengan banyak cara. Eksploitasi perempuan adalah salah
satunya.
Perempuan cerdas nggak akan mudah terpesona
dengan bujuk rayu nggak bermutu ini. Ia memahami bahwa kecerdasan perempuan itu
bukan hanya aksesori semu di atas panggung semata. Perempuan cerdas itu terwujud
dalam karya nyata. Ia berprestasi dalam bidang yang memang benar-benar
memaksimalkan peran otak dan akal, bukan sekadar akal-akalan saja. Memang ada?
Banyak malah. Tuh lihat aja kontes puteri atau miss apalah itu namanya,
menjadikan otak alias brain sebagai pajangan asal pantas. Soalnya tanpa kriteria
brain, si panitia takut kalo
masyarakat akan menganggap lomba-lomba semacam itu hanya bisa mengandalkan tubuh
seksi perempuan semata. Padahal mah kenyataannya iya banget. Naif banget kalo kamu masih percaya
kecerdasan turut diperhitungkan dalam kontes semacam ini. Sumpeh deh
lo!
Perempuan cerdas itu langsung terasa efeknya
ke masyarakat. Selain mengukir prestasi dalam bentuk kemampuan akademis yang
oke, kecerdasan pun bisa juga diraih dalam bentuk lain. Salah satunya adalah
kecerdasan dalam menyikapi fakta yang tersaji di depan mata lalu berusaha
menicarikan solusi cerdas atas semua masalah yang ada. Misalnya dalam menyikapi
harga BBM yang semakin mahal. Perempuan cerdas langsung memahami bahwa itu semua
terjadi gara-gara diterapkan sistem Kapitalisme yang jadi kiblat pemerintah saat
ini. Negara menjadi macan ompong yang nggak mampu menjamin kesejahteraan
rakyatnya. Negara cuma berperan sebagai pedagang untuk mengambil keuntungan
sebanyak-banyaknya dengan dalih pengurangan subsidi.
Sayangnya, sekolah yang ada saat ini sangat
tidak mencerdaskan muridnya terutama kaum perempuan. Diperparah dengan
liberalisasi pendidikan alias pemerintah sudah nggak mau bertanggung jawab
terhadap pendidikan rakyatnya, jadilah sekolah-sekolah itu disulap menjadi
barang mewah yang mahal dan tak terjangkau. Klop banget untuk menjadikan
perempuan jauh dari kecerdasan.
Tapi sebenarnya yang namanya kecerdasan, bisa
ditempuh dan diasah dalam ranah kehidupan yang lain. Sekolah kehidupan
internasional adalah solusinya. Apa itu? Yaitu sebuah sekolah yang menjadikan
kurikulum universal sebagai materi pelajarannya, dengan standar Islam sebagai
patokan. Laboratoriumnya juga canggih karena langsung terjun ke masyarakat tanpa
harus nunggu program KKN yang biasa ada di perguruan tinggi. Muslimah jenis ini,
sudahlah cerdas otaknya, cerdas pula empatinya. Top banget dah.
Berakhlak mulia juga harus dong!
Non, selain cerdas, perempuan itu kudu
berakhlak islami. Percuma aja punya kecerdasan kalo ternyata nggak bermoral dan
akhlaknya rusak. Banyak banget tuh kejadian ayam kampus atau ayam abu-abu
(sebutan untuk pelacur yang masih kuliah atau SMA) yang berotak brilian namun
jangan ditanya soal akhlak. Mereka obral diri hanya demi gepokan rupiah. Tentu
bukan seperti ini gambaran perempuan mulia dan hebat itu.
Akhlak bisa ada pada diri perempuan bila ia
beriman. Karena sesungguhnya standar akhlak sendiri adalah bagian dari syariat
Islam dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan hal
ini berkaitan banget dengan akidah yang dianut seseorang. Misal nih, kamu
mempunyai akhlak dengan sifat jujur. Bukan semata-mata karena jujur itu baik,
tapi seharusnya kamu sadar bahwa jujur itu baik karena Allah bilang jujur itu
baik. Dan kalau Allah bilang itu baik maka itu artinya perbuatan itu akan
memperolah nilai dan pahala di hadapanNya.
Pada satu momen, ketika Allah bilang jujur
nggak baik ya kita harus nurut bahwa jujur itu nggak baik. Ada tiga kondisi
dalam Islam yang memperbolehkan seseorang untuk berlaku tidak jujur. Pertama
adalah dalam hubungan suami istri untuk membahagiakan pasangan, kedua adalah
dalam peperangan, dan ketiga adalah ketika mendamaikan dua orang yang
bermusuhan. Jadi, dalam kejujuran pun standar yang kita pake jelas banget yaitu
Islam saja. Hal ini berlaku juga untuk bentuk-bentuk akhlak lainnya semisal
ramah, baik hati, tidak sombong, suka menabung, patuh pada orang tua dll (hihi,
kayak dasadarma pramuka yah).
Kecantikan diri patut dijaga
Kecantikan adalah sebuah hal yang secara alami
ada pada diri tiap perempuan. Yakinlah, tak ada istilah perempuan berparas
buruk. Bila ada yang mempunyai pendapat seperti ini, sungguh pada saat yang sama
ia telah menghina Allah Ta’ala yang
menciptakan paras tersebut. Cantik atau jelek kan cuma masalah selera. Yang
dianggap paras kurang cantik bagi orang Asia, eh….ternyata digandrungi sama
orang bule di daratan Eropa sana. Eksotis, katanya…ciee.
Terlepas dari itu semua, kecantikan yang ada
pada diri perempuan kudu dijaga sebagai bentuk amanah kita pada Sang Pencipta.
Menjaga kecantikan nggak harus ke salon tiap hari. Merawat kecantikan nggak
harus juga luluran merata ke seluruh tubuh biar kinclong, mandi berjam-jam
karena harus memakai berbagai macam krim untuk tubuh, menikur en pedikur atau
apa pun namanya yang jelas-jelas itu semua hanya menghamburkan uang dan waktu.
Jangan sampai karena pedulinya kamu sama
kecantikan sehingga membuat sebagian besar waktu dan uangmu habis untuk hal ini
saja. Merawat kecantikan yang ideal itu sebetulnya adalah ketika tubuh kita bisa
beraktivitas secara maksimal karena sehat. Percuma juga tubuh cantik bagai
porselen kalo ternyata malas beraktivitas dengan dalih takut bedak luntur,
misalnya. Percuma juga langsing kayak tiang listrik kalo penyakitan karena diet
yang ketat.
Intinya, mempertahankan kecantikan diri cukup
dengan standar Islam saja yang sangat menyukai kebersihan. Mandi minimal dua
kali sehari, sikat gigi teratur, jaga kebersihan rambut dan anggota tubuh yang
lain juga.
Last but not least,
kecantikan itu bagaimana pun bentuknya, standarnya kudu Islam saja. Percuma juga
cantik kalo ternyata nggak menutup aurat. Percuma juga kulit mulus kalo ternyata
nggak pernah sholat. Ih….naudzhubillah. Karena ternyata kecantikan hakiki itu adalah gabungan dari
kecerdasan otak dan akhlak yang nantinya memancar pada sikap dan perilaku
seseorang sebagai bukti ketaatan pada hukum syara’ yang telah ditetapkan aturannya oleh
Allah Swt.
Adakah sosok idaman itu?
Hmm…pertanyaan yang nggak mudah untuk dijawab.
Kalo saya mau angkat tangan, kesannya kok narsis banget (hehehe..). Biar adil,
saya akan menunjuk seseorang lain yang memenuhi kriteria di atas itu. Seorang
perempuan, yang pasti muslimah dong, cerdas, berakhlak bagus dan cantik. Ia
kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia, jurusannya pun
terkenal sangat sulit ditembus oleh orang yang berotak pas-pasan.
Sampai di sini, jelas banget kalo muslimah ini
punya otak dan kecerdasan di atas rata-rata. Tidak itu saja, pemahaman
keislamannya pun top banget. Kalo saya mengatakan paham, itu beda dengan
‘tahu’. Artinya, ia mengamalkan Islam dengan
maksimal. Ia ramah dan supel, baik hati, tidak sombong, suka menabung dan patuh
pada orang tua. Hapalan al-Qurannya top, kemampuan bahasa Arab dan bahasa
Inggrisnya juga oke.
Dari segi kecantikan, subhanallah. Ia
dikaruniai Allah fisik yang sempurna. Nggak ada orang yang bilang ia jelek. Saya
aja sesama cewek, juga ikut tersepona dengan kecantikanya yang inner dan outer
itu. Apa inti dari ‘sharing’ saya
ini? Maksudnya ingin saya tunjukkan bahwa sosok muslimah ideal dan idaman umat
itu ada. Hanya saja ia ada dalam jumlah dan stok yang terbatas. Why?
Setangkai bunga yang indah akan tumbuh dengan
sempurna bila tanah dan iklimnya bagus serta sesuai. Begitu juga dengan muslimah
idaman umat. Sosok-sosok ini akan tumbuh bila iklim alias lingkungan yang ada
mendukungnya untuk berkembang dengan sempurna. Tapi apa fakta yang ada? Sistem
yang diberlakukan kepada kita saat ini sungguh iklim rusak yang penuh noda.
Sekulerisme yang diterapkan saat ini meniadakan peran agama dalam kehidupan.
Kapitalisme yang mendewakan materi sebagai sumber kebahagiaan hidup pun juga
dipuja-puja.
Lihat tuh, para perempuan cantik yang seksi
mengumbar aurat di tempat umum, teryata sholatnya rajin juga. Bahkan saya sempat
terkecoh dengan salah satu teman yang ketika berangkat ke kampus berkerudung
rapat padahal hari-hari biasanya nggak. Saya pun mengucapkan selamat padanya.
Bukankah kebaikan itu harus disyukuri dan diucapkan selamat padanya agar
berkesinambungan? Ternyata ia mengatakan bahwa berkerudungnya itu karena ia
habis menghadiri rapat sebuah perkumpulan mahasiswa muslim. Ia menyebutnya
fleksibel karena itu artinya ia bisa berada di mana-mana. Rapat tentang Islam
oke yang itu artinya ia berbaju muslimah. Dugem pun ayo aja yang itu artinya
pake baju buka-bukaan. Waduh, jadinya baju muslimah itu dipakai hanya sekedar
dress code aja yah? Capee
deh.. ngikutin jalan pikiran kayak elo!
Dari kedua sosok di atas, sudah bisa
dipastikan bahwa contoh kedua-lah yang paling banyak ditemui di sekeliling kita.
Islam tidak lagi diakui sebagai the way of
life. Namun Islam hanya sebagai mode dan gaya yang
kebetulan lagi tren. Apalagi diperparah dengan ide demokrasi yang sangat
mengagungkan kebebasan berekspresi termasuk dalam hal pakaian, jadilah baju
muslimah dianggap sebagai salah satu pilihan yang bisa dipilih suka-suka. Kalo
suka ya dipake, kalo nggak ya dilipat aja dalam lemari. Waduh!
Nggak bisa dibayangkan wajah bangsa ini ke
depan, bila perempuannya plin-plan kayak gini. Tapi sangat bisa diprediksi
sehebat apakah suatu kaum apabila perempuannya sekaliber contoh pertama di atas.
Dan itu telah dibuktikan oleh Islam yang gilang-gemilang selama 13 abad dengan
kualitas perempuan yang mulia dan hebat. Kalo sudah ada bukti cemerlangnya
peradaban dalam naungan Islam, so buat apa kita butuh peradaban lain semacam
demokrasi dan Kapitalisme? Jadi, tak ada pilihan lain untuk menciptakan generasi
muslimah hebat dambaan umat kecuali kita campakkan bersama-sama semua ide yang
rusak dan merusakkan. Setuju? Akur dong! [ria:
riafariana@yahoo.com]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar